5 Kunci Sukses GO-JEK Membangun Startup

Sekitar tahun 2010, GO-JEK hanya dikenal sebagai penyedia transportasi roda dua melalui panggilan telepon. Sekarang, selain mengantar orang, GO-JEK juga memiliki berbagai layanan antar untuk makanan, barang, dan berbagai layanan on-demand lainnya. Terlepas dari pro-kontra terhadap kehadirannya yang dianggap dapat mematikan sektor lain, tak ada salahnya untuk belajar, apa yang membuat GO-JEK mampu membesarkan usahanya.
Membangun startup merupakan sebuah pekerjaan 24 jam yang harus dilakukan dengan penuh cinta. Dayu Dara Pertama, Co-Founder GO-LIFE dalam sebuah konferensi untuk perempuan beberapa waktu lalu mengatakan, ada lima hal yang membuat GO-JEK tumbuh seperti saat ini.
Pertama, membangun bisnis yang memiliki tujuan. Berawal dari pemikiran tidak adanya standarisasi ongkos ojek, GO-JEK berharap kehadirannya dapat memberikan standarisasi harga dan dampak sosial melalui teknologi.  
Kedua, tim. Carilah orang-orang yang memiliki hasrat, kecintaan pada pekerjaan.  
Ketiga, produk. Temukan produk yang dibutuhkan dan menyelesaikan masalah orang lain. Dengan kondisi jalan macet, kehadiran ojek dengan harga yang dapat diukur menyesuaikan jarak dianggap adil bagi konsumen.
Keempat, harga yang sesuai dan promosi yang menyesuaikan daerah tempat dia berada. Kebutuhan di Jakarta tentu berbeda dengan daerah lain. Melihat kondisi masyarakat di daerah tersebut penting dilakukan.

Kelima, membangun kerjasama dengan pihak yang memiliki visi yang sama.

Jurnalisme dan Info Hoax

Dalam ilmu jurnalistik, istilah hoax tidak ditemukan karena kaidah jurnalisme mengedepankan fakta peristiwa, kompetensi sumber berita dan verifikasi. Yang menarik, setahun belakangan ini istilah hoax makin mengemuka. Hoax hadir seiring munculnya website dan tumbuhnya media sosial.
Hoax di media pers bisa diistilahkan sebagai berita bohong. Pers yang memuat berita bohong sudah pasti akan ditinggal pembaca, pemirsa atau pendengarnya. Dalam konteks jurnalistik, berita bohong hampir sulit masuk ke media pers karena mekanisme kerja di redaksi begitu ketat, selektif dan melibatkan banyak jenjang.
Selain itu, ada profesi wartawan yang mengatur etika, lembaga yang membuat regulasi dan dipayungi undang-undang sehingga berita yang muncul di media pers tidak bisa asal.
Hoax tumbuh di media sosial termasuk website yang sangat mudah dibuat. Di media sosial, semua orang adalah penyampai pesan. Baik pesan benar atau salah, semua berhak menulis dan menyebarkannya. Tidak aturan mengikat mengikat, tidak ada jenjang, setiap orang mewakili dirinya sendiri.
Informasi hoax bahkan diibaratkan melebihi kecepatan orang bernafas  karena info itu begitu cepat menyebar hampir ke semua kalangan. Pengalaman teman yang punya banyak sekali grup WA, dia mendapat info hoax sampai 10 kali dari 10 grup yang isinya berbeda-beda dalam waktu hampir bersamaan.
Hoax menjadi makin menakutkan beberapa kalangan karena info hoax itu dipercaya hingga media pers yang mainstream juga mengutipnya sebagai sebuah berita. Entah sebagai fenomena, pembanding atau benar-benar menjadikannya sebuah berita. Sejatinya bagi media mainstream dan para jurnalisnya, informasi hoax bukan sebagai sumber berita tetapi sebagai bahan berita.
Mengapa hoax menjadi begitu terkenal, massif dan saat ini jadi menakutkan? Padahal hoax sudah ada sejak lama.

Mendadak Takut Hoax
Meledaknya hoax adalah sebuah keniscayaan di negara demokrasi seperti Indonesia, dengan beragam kalangan dan multi partai. Dimana ada kepentingan politik, ekonomi dan kekuasaan, disitulah hoax itu muncul.
Kemunculan hoax di tengah terbelahnya masyarakat kita yang pro Ahok dan anti Ahok, pro Jokowi dan anti Jokowi juga hal yang biasa. Apalagi ketika pilpres atau saat ini jelang Pilkada DKI Jakarta.
Hanya saja takut berlebihan terhadap hoax bukan berarti membuat semua hal yang ada di media sosial itu salah dan negatif. Kampanye anti hoax bagus saja untuk menyadarkan masyarakat namun jangan juga akhirnya kampanye itu hanya untuk menutup banyaknya isu yang beredar di media sosial tentang penguasa, tentang ekonomi, tentang utang, tenaga kerja. Apalagi yang ujungnya adalah penangkapan, penutupan situs secara serampangan.
Seperti kata Rocky Gerung kebenaran itu jangan dikendalikan karena mengendalikan kebenaran seperti ada yang ingin disembunyikan. Hoax adalah fenomena cepat melesat juga akan cepat terjerembab. Sikapi dengan biasa saja karena masyarakat pun akan menemukan keseimbangannya sendiri.
(Gaib M. Sigit)

Berteman dengan Anak di Media Sosial? Pahami Rambu-rambunya

Ada sebagian besar orangtua yang berteman denga remajanya di media sosial. Harapannya, dengan berteman, orangtua dapat membantu mengontrol setiap  postingan yang ditulis atau diunggah oleh anak. Hanya saja, alih-alih ingin mengontrol, “pertemanan” ini justru menimbulkan kekesalan anak terhadap orangtuanya. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya orangtua memahami beberapa hal.
Tidak semua remaja mau berteman dengan orangtuanya di media sosial. Ketika memasuki usia sekolah menengah, ada banyak hal yang berubah dan sebagai orangtua tentu kita perlu menghargainya.
Pertama, jika ada postingan yang kurang tepat yang disampaikan anak, jangan langsung menegurnya di media sosialnya. Gunakan komunikasi tatap muka untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Kedua, jika anak bercerita tentang ini dan itu, bukan berarti semua itu boleh disampaikan untuk orang lain. Bisa jadi cerita itu eksklusif hanya untuk orangtuanya saja. Meskipun apa yang diceritakan bersifat bagus. Misalkan, “Bu, tadi ada temanku mengajak aku mencontek tapi aku nggak mau. Kan Ibu bilang kita harus jujur.” Jika memang dirasa perlu, untuk memberikan inspirasi, mintalah izinnya terlebih dulu, apakah boleh ditulis di media sosial kita atau tidak.
Ketiga, jangan membicarakan hal-hal negatif tentang anak atau sesuatu yang membuat anak malu. Jika ingin meminta saran dari orang lain, selain menanyakan pada anak, gunakan kalimat yang tidak mengandung kata-kata merendahkan. Misal, kita punya anak berjerawat dan ingin menanyakan pada orang lain sabun wajah apa yang aman untuk remaja. Cukup dengan bertanya, “Ibu-ibu, adakah yang punya rekomendasi sabun wajah untuk remaja yang kulitnya sensitif?”
Keempat, apa yang menurut kita biasa saja atau lucu, belum tentu seperti itu untuk anak. Ada foto-foto yang sebenarnya hanya untuk konsumsi keluarga, seperti memasang wajah jelek, buat orangtua mungkin lucu untuk dibagikan tapi boleh jadi tidak untuk anak.

Ada baiknya, sepakatilah terlebih dulu mana yang boleh dan tidak dilakukan di media sosial. Biasakan untuk tetap berdiskusi secara langsung, bukan di media sosial.  

Anakku yang Tidak Patuh Atau ....

Ibu Diana siang itu akan menghadiri rapat di kantor suaminya. Sebelum pergi, ia berpesan kepada puteranya, Andre (14 tahun), untuk mengirimkan paket ke tetangga mereka. Sore hari, sepulang dari kantor suaminya, ia masih melihat paket tersebut tergeletak di atas meja makan. Ibu Diana kesal. Masa hanya dimintai tolong mengantar ke tetangga saja tidak mau!
“Ndre, kok paketnya untuk Tante Jeane belum dikirim, sih? Kan tinggal jalan sebentar juga sampe!” kata Ibu Diana. 
“Lho, kapan Mama bilangnya?”
“Tadi siang sebelum berangkat ke kantor Papa.”
“Andre enggak denger, Ma,”
“Masa enggak denger? Mama teriak-teriak dari bawah, lho!”
“Iya, bener. Tadi siang kan Andre lagi dengerin musik di kamar.”
Ayah-Bunda pernah mengalami kejadian serupa?
Orangtua merasa sudah meminta anak melakukan sesuatu namun anak tidak melakukannya. Kalau sudah begitu, kerap kali, orangtua menjadi kesal. “Duh, masa sih dimintai tolong begitu saja nggak mau.” Padahal, bisa jadi, ada hal-hal yang menghambat diterimanya pesan atau dalam ilmu komunikasi disebut “noise” atau gangguan. 
Ada beberapa bentuk gangguan yang terjadi dalam komunikasi antara anak dan orangtua:
1. Bahasa yang digunakan
Penggunaan bahasa tentu harus disesuaikan dengan usia anak. Apakah bahasa yang kita gunakan mudah dipahami oleh mereka? Apakah kata-kata yang kita gunakan tepat digunakan? Bahasa yang kita gunakan untuk anak usia 6 tahun tentu berbeda ketika anak memasuki usia remaja. 


2. Kondisi sekitar
Cerita di atas tepat untuk menggambarkan bagaimana kondisi sekitar sangat memengaruhi diterimanya pesan.  Bagaimana mungkin anak dapat menerima pesan kalau disampaikan dari jarak jauh, ditambah lagi di kamar ada suara musik sehingga teriakan mama tidak akan terdengar. Maka, ketika akan menyampaikan pesan, pastikan bahwa anak mendengar dengan jelas apa yang kita sampaikan.   
Biasakan, ketika orangtua ingin menyampaikan sesuatu, apalagi jika sesuatu tersebut cukup serius:
a. Ajak anak untuk duduk berdekatan. Jaga kontak mata, namun untuk anak laki-laki, tidak perlu dipaksa menatap atau melihat orangtua, jika memang ia tak mau. Yang penting tidak ada aktivitas lain yang mereka lakukan selain berbincang dengan Ayah-Bunda.
b. Alokasikan waktu berapa lama Ayah-Bunda akan bicara dengan mereka jika hal tersebut memang bukan pesan biasa. Bisa berupa aturan, perasaan atau keinginan Ayah-Bunda, dan lain-lain sehingga anak siap untuk mendengarkan. 
c. Usahakan untuk menyampaikan satu pesan atau topik pembicaraan sehingga tidak melebar kemana-mana. 

Selamat mengobrol dengan ananda, Ayah-Bunda

Apa yang Harus Dilakukan Ilmuwan Indonesia untuk Menulis Jurnal Internasional?

Apa yang Harus Dilakukan Ilmuwan Indonesia untuk Menulis Jurnal Internasional?



Ilmuwan Indonesia masih harus lebih bersemangat dalam menulis jurnal internasional. Meskipun mengalami peningkatan dari 2015, namun yang terindeks Scopus, jumlahnya baru berkisar 9.012 jurnal. Untuk itu, Kemenristekdikti bekerjasama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional mengundang ilmuwan diaspora Indonesia yang telah berkarya dan memiliki reputasi internasional untuk berbagi ilmu dengan akademisi di Indonesia dalam program #VisitingWorldClassProfessor pada Desember 2016. 

Menurut Prof. Gindo Tampubolon dari University of Manchester, jika Indonesia ingin maju, harus banyak menulis untuk jurnal internasional. “Tokoh periklanan David Ogilvy pernah mengatakan, hire somebody more clever than you, you will end up a company of giant, if you hire somebody less clever than you because of your insecurity, you will end up a company of minions. Kalau hanya menulis untuk jurnal Indonesia, lama-lama Indonesia akan terlihat makin kecil.”

Meskipun ia mengakui, menulis jurnal bukanlah pekerjaan ringan. Banyak jurnal dari Indonesia yang ditolak karena beberapa faktor.  

Apa saja kelemahan jurnal dari ilmuwan Indonesia sehingga sulit menembus jurnal internasional? 
Prof. Etin Anwar, pengajar di salah satu universitas di Amerika mengatakan, selama menjadi reviewer, ia melihat beberapa kekurangan pada jurnal yang ditulis ilmuwan Indonesia. Misalnya, dari segi kedalaman dan resources yang terlalu sederhana. Padahal, menurutnya, banyak topik yang dapat diangkat dari Indonesia.  

Sementara Prof. Siti Kusujiarti mengkritisi ide yang kerap tidak jelas. “Idenya kurang jelas, terselip di mana-mana. Ide utama kadang diletakkan di paling bawah. Kita harus berani menyatakan bahwa ini adalah ide utama dalam jurnal ini. Harus berani mengatakan penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya karena a, b,c dan sebagainya. Jadi harus ada kebaruan atau sumbangan yang akan diberikan dalam penelitian tersebut.”

Ia pun bercerita tentang pengalamannya selama mengajar di Amerika. Meskipun kampus kecil, namun penelitian dan publikasi tetap harus dilakukan. Mereka pun harus mendapat persetujuan dari Institutional Review Board.  “Mereka akan melihat etika penelitian yang kita lakukan.”

Menurutnya, etika penelitian penting, terutama jika berkaitan dengan manusia. “Jika subjek penelitian adalah anak di bawah 18 tahun, maka kita harus mendapat persetujuan dari orangtuanya. Jika dirasa membahayakan, kerahasiaan identitas mereka juga penting untuk dijaga.” 

Hal senada juga diungkapkan oleh Prof. Vedi Hadiz dari University of Melbourne. Sebagai reviewer, ia mencatat beberapa kekurangan dalam jurnal yang ditulis peneliti Indonesia. Pertama, argument yang tidak jelas. Terlalu panjang di bagian latar belakang masalah padahal seharusnya pada halaman pertama, argumentasi dan permasalahan sudah harus dikemukakan. Kedua, literature review yang seringkali hanya sekadar memenuhi jumlah halaman. Padahal seharusnya, literature review digunakan untuk melihat pada posisi apa pandangan atau pendapat kita terhadap literatur tersebut. Ketiga, sumbangsih atau kebaruan. 

Selain itu, Prof. Vedi juga mengkritisi kondisi dosen di Indonesia. Kebutuhan dosen harus dipenuhi dengan baik, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan urusan birokrasi. Dengan begitu, dosen lebih fokus untuk meneliti. Ia juga menyarankan kepada Kemristekdikti untuk menyelenggarakan pelatif intensif untuk para dosen dalam menulis jurnal internasional.  

Semoga, ya. Saya pun berharap agar Kemenristekdikti juga memerhatikan para dosen tidak tetap yang punya semangat untuk meneliti. (APR) 

Radio dan Keberpihakan Pemerintah

Radio dan Keberpihakan Pemerintah



Banyak yang mengatakan, sudah tidak eranya lagi bagi industri media meminta perlindungan pemerintah karena saat ini eranya pasar bebas dan keterbukaan. Namun kondisi ini justru tidak berlaku di sejumlah negara seperti Cina dan India.

Di kedua negara tersebut ada perlindungan khusus untuk industri media dalam negeri dengan memberikan subsidi khusus agar terus bisa bersaing bahkan melarang media asing masuk. Mereka meyakini bahwa industri media lokal adalah potensi bangsa yang harus dijaga dan diperhatikan. Karena jika negara perlu sesuatu, media nasionallah yang dapat membantu apalagi jika dalam situasi darurat. Yang ironis justru di dalam negeri kita. Pemerintah justru membiarkan perusahaan-perusahaan asing itu ‘menjajah’ warganya dan membiarkan industri media lokalnya jatuh berguguran. Resiko pasar dan perubahan katanya.

Perubahan dan kemajuan teknologi memang tidak bisa ditolak karena ini sebuah keniscayaan. Namun melindungi perusahaan lokal khususnya media bukan pekerjaan sulit bagi pemerintah seharusnya. Bayangkan jika perusahaan media yang ada saat ini baik di pusat dan daerah harus bersaing berebut iklan dengan Google, Facebook, Twitter, Youtube, dan lain-lain. Perusahaan raksasa dengan modal selangit dan teknologi canggih ini tidak akan mampu dilawan perusahaan media besar pun di dalam negeri. SDM, infrastruktur mereka sudah lengkap, butuh waktu untuk bersaing dan melawan.

Saat ini banyak media cetak yang tumbang karena tidak mampu lagi menahan kerugian yang terus membesar. Pengeluaran dan pemasukan iklan yang tidak imbang membuat idealisme membangun surat kabar untuk mencerdaskan bangsa harus runtuh.

Media cetak memang membutuhkan biaya besar khususnya untuk pembelian kertas dan bahan baku lainnya. Apalagi untuk koran yang belum punya percetakan sendiri, situasinya jadi semakin berat. Ditambah belum tumbuhnya minat baca masyarakat Indonesia karena keburu diserbu teknologi yang memudahkan dan membuat orang jadi malas membaca. Di India, pemerintahnya memberikan subsidi kertas untuk media cetak nasional karena biaya untuk pembelian kertas memang sangat mahal. Ini adalah bentuk perhatian dan kepedulian pemerintah India untuk melindungi media nasionalnya.
Lalu apa yang sudah dilakukan pemerintah? Belum ada.

Bagaimana dengan industri radio?

Radio diyakini masih akan tetap hidup selama masih ada frekwensi. Ruang udara ini memang milik pemerintah yang dipinjamkan ke swasta untuk dikelola. Fakta yang ada sekarang, jika media cetak tumbang dan makin sedikit, radio justru tumbuh dan semakin banyak jumlahnya, sekitar empat ribuan radio tersebar di seluruh Indonesia. Wow!!

Bahkan riset terakhir Nielsen 2016 menempatkan radio di posisi ke empat sebagai media yang masih diminati setelah televisi, billboard, online. Hanya beda dua persen dengan media online.
Namun data yang cukup bagus ini sebenarnya tidak sebanding dengan pemasukan yang diterima. Radio meski kuat bertahan namun tidak memiliki kemajuan yang berarti. Belanja iklan radio pun terus turun, kondisi radio khususnya di daerah seperti hidup segan mati tak mau. Jangan sampai kondisi radio nasional seperti media cetak yang dibiarkan runtuh satu per satu.    

Radio, bagaimanapun menjadi media yang sangat penting sebagai perekat NKRI. Radio hadir hingga pelosok negeri dan perbatasan yang tidak bisa dijangkau koran dan televisi. Radio adalah alat perjuangan, alat informasi yang efektif untuk menyebarluaskan pesan-pesan pemerintah. Bahkan saat ini radio bisa jadi penyeimbang di tengah maraknya media sosial yang penuh caci maki tanpa sensor. 

Nasionalisme radio juga tidak perlu diragukan. Sejak dulu hingga sekarang radio adalah media perjuangan yang dengan mudah menyampaikan misi bangsa, misi pemerintah dan nilai2 luhur pancasila. Sehingga sejatinya, radio harus dilindungi, pemerintah harus punya aksi yang jelas untuk membantu industri radio agar bisa tumbuh dan bersaing. Banyak hal yang bisa dilakukan, dengan memberikan kemudahan izin, pengurangan pajak, partnership dan memberi porsi iklan yang proporsional.

Angin segar hadir dalam diskusi POLEMIK Sindotrijaya FM bertajuk “Radio Perekat NKRI, Satu Suara Berjuta Telinga” dalam memeringati HUT ke-42 Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). Sejumlah narasumber yang hadir optimis bahwa radio akan terus hidup.  

Menkominfo Rudiantara yang hadir dalam diskusi termasuk Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Yuliandre Darwis dan Anggota Komisi I DPR, Biem Benyamin, menyatakan komitmennya untuk memberi perhatian khusus kepada radio sebagai media nasional khususnya dalam revisi UU Penyiaran yang baru, seperti penyederhanaan izin, pelatihan dan partnership.

Sementara pembicara lain, pengamat media, Agus Sudibyo mengatakan sudah sangat urgent bagi pemerintah dan DPR bersikap melindungi media nasional dari media global seperti Facebook, Youtube, Google, dan lain-lain. Apalagi fakta mengatakan bahwa belanja iklan dalam negeri sangat besar masuk ke media global tersebut dan media-media itu belum jelas pembayaran pajaknya untuk negara. Sementara media nasional dikejar-kejar pajak terus dan jika terlambat bisa didenda. Yang terjadi tidak ada kesetaraan dan level playing field yang berbeda.

“Jika ini dibiarkan, pemerintah dan DPR membiarkan maka media nasional dalam bahaya besar. Mereka bisa tumbang pelan-pelan dan ujungnya mengancam NKRI,” ujar Agus.

Sementara terkait radio, Agus yakin akan terjadi titik balik yang ekstrim. Nanti mereka yang jengah dan jenuh dengan media sosial karena banyak bullying, kata-kata kasar dan cenderung negatif akan berpindah ke radio yang lebih menghibur, santun dan informatif.

Selamat ulang tahun ke-42 PRSSNI, semoga terus membina radio nasional untuk terus menjadi perekat NKRI
#1SuaraBerjutaTelinga


(Gaib Maruto Sigit, Pemimpin Redaksi Sindotrijaya FM)

Remaja Kita Kasar, Salah Siapa?

Di sebuah grup WA, seorang ibu mengungkapkan keprihatinnya.

“Tadi saya melihat beberapa remaja perempuan sedang adu mulut. Bahasanya kasar sekali. Sebagai ibu, saya prihatin. Saya dekati, coba melerai. Eh, malah saya yang dimarahi. Bahkan dia memberikan jari tengahnya untuk saya sebelum pergi. Astaghfirulloh.”
Kondisi ini tentu membuat kita berpikir. “Apa yang membuatmu begitu kasar, Nak?”

Ayah-Bunda,
Tak sedikit orangtua yang mengeluhkan anak-anaknya yang tidak ramah, sering membantah, membentak dan berbicara kasar pada mereka. Tak hanya di rumah, di luar pun, mereka menunjukkan ketidakramahan pada orang lain. Meskipun boleh jadi, mereka terlihat sangar dari luar, tapi tidak sedikit yang rapuh jiwanya. Mereka sulit menerima kegagalan, nasihat kebaikan dianggap sampah dan kerap diliputi kecemasan.

Apa penyebabnya?
Sebuah studi menjelaskan, anak yang memiliki hubungan baik dan lekat dengan orangtuanya, akan tumbuh menjadi anak yang memiliki empati dan menyenangkan (Sears, 2006). Menjadikan anak sebagai sosok yang memiliki empati dan kasih sayang tentu tidak dapat dilakukan dalam sekejap. 

Ada perjalanan yang perlu dilalui sejak mereka masih berada di dalam rahim sang ibu. Seberapa sering orangtua mendekap, mengelus, menggendong ketika mereka bayi. Seberapa sering orangtua membiarkan anak berekspresi, mengajaknya bicara, membacakan cerita, bermain bersama. Seberapa sering orangtua mendengarkan anak ketika mereka memiliki segudang pertanyaan dan cerita yang ingin disampaikan.

Ketidaklekatan orangtua-anak juga kerap kali ditunjang dengan sikap orangtua yang memarahi melebihi batas sehingga anak menyimpan luka batin dalam hatinya. Mereka sulit untuk mengungkapkan karena orangtua yang seharusnya menjadi tempat mereka bercerita tidak memberikan kesempatan itu. Atau sebaliknya, membolehkan apa saja yang diinginkan anak tanpa adanya aturan mana yang boleh dan tidak. Orangtua seolah kehilangan kendali terhadap anak-anak mereka. Hubungan orangtua dan anak semakin berjarak, semakin tidak bertemu. Orangtua merasa anaknya membangkang. Anak merasa orangtuanya mengekang. Padahal, kunci kesuksesan komunikasi antara orangtua dan anak adalah kelekatan dan kasih sayang.

Ironisnya, ketika mereka tidak mendapatkan perhatian di dalam rumah, mereka mencari keluar. Mereka mencari teman-teman yang satu frekuensi. Ketika bertemu dan bergaul dengan teman-teman yang memiliki kondisi yang sama, mereka menikmatinya. Maka jangan heran, jika ada anak perempuan usia SD yang senang keluar malam dan berkumpul dengan teman-temannya. Jika ini terjadi, maka lingkungan yang akhirnya membentuk mereka. Apalagi jika orangtua memfasilitasi mereka dengan gawai berinternet; gambar pornografi dapat dengan mudah dilihat oleh anak-anak kita. Seringnya anak terpapar pornografi tentu memberikan dampak negatif.

Kondisi ini memang menjadi keprihatinan dan tugas kita bersama. Di rumah, tumbuhkan komunikasi, peran dan sosok orangtua. Dekatkan mereka dengan agama. Di lingkungan, peran RT/RW penting untuk memantau adakah tempat-tempat yang berpotensi membawa keburukan; tempat kumpul yang mencurigakan dan warnet yang sering didatangi anak sekolah. Tak kalah penting, peran sekolah untuk memantau perkembangan murid-muridnya dan lakukan pendekatan jika ada anak yang berbicara atau bertindak kasar kepada teman-temannya.


Jangan biarkan anak-anak kita berkembang tanpa cinta dan iman di dalam dirinya. (APR)

Tulisan ini juga pernah dimuat di Ahadtimes.com. 


5 Kiat Lepaskan Anak dari Belenggu Medsos

Tulisan ini juga dimuat di AhadTimes, 18 Oktober 2016
http://ahadtimes.com/5-kiat-lepaskan-anak-dari-belenggu-medsos/


Fenomena selebgram (Seleb Instagram) yang kerap menampilkan foto-foto  yang tidak sepatutnya dilihat oleh anak-anak, seperti berpose mesra dengan pacar, membuat daftar panjang tantangan orangtua di era digital ini. Belum lagi aplikasi berkonten pornografi yang mudah diunduh dan keseruan yang menggiurkan anak untuk dilihat dan dipuji orang lain.  

Dampak negatif dari media sosial ini tentu perlu mendapat perhatian sangat serius dari orangtua. Ironisnya, banyak anak-anak usia SD sudah memiliki dan aktif bermedia sosial. Sebaiknya, bagi anak-anak yang masih berusia di bawah 13 tahun, tidak perlu memiliki media sosial. Bahkan, pikirkan kembali, jika orangua ingin memfasilitasi anak dengan smartphone. Kalau kebutuhannya hanya untuk menelpon atau berkirim pesan, cukup gunakan HP sederhana. Mungkinkah orangtua membatasi anak memiliki akun media sosial terlalu dini?

Dari pengamatan dan beberapa studi, anak-anak ingin memiliki akun media sosial dikarenakan dorongan dari teman-teman dan rasa penasaran. Untuk itu, orangtua perlu membangun konsep diri anak. Dukung mereka untuk berani mengemukakan pendapatnya sendiri, mengatakan tidak untuk sesuatu yang ia tidak nyaman, percaya dan bangga pada dirinya.

Selain itu, ada beberapa hal yang dapat dikomunikasikan dengan mereka.

Pertama, buat kesepakatan pada usia berapa mereka boleh memiliki akun media sosial. Hal ini tentu akan mengundang reaksi yang beragam pada setiap anak. Boleh jadi mereka kesal karena merasa teman-temannya sudah memiliki akun media sosial sementara ia tidak. Ia mungkin akan membandingkan mengapa A boleh, sedangkan ia tidak. Pada kondisi seperti ini orangtua dapat menjelaskan bahwa di setiap keluarga memiliki aturan yang berbeda-beda. Jelaskan dampak negatif jika memiliki akun media sosial, tentu dengan bahasa dan kondisi konkret yang mudah dipahami anak. Ungkapkan kekhawatiran kita sebagai orangtua dengan intonasi dan mimik wajah yang dapat ditangkap anak sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang orangtua.

Kedua, jika anak merasa khawatir diejek teman-temannya atau disebut kudet (kurang update), orangtua dapat jelaskan bahwa lebih kudet mereka yang tidak mengetahui sejarah nabi, atau pengetahuan lain yang lebih bernilai dan anak menguasainya, dibandingkan yang tidak punya akun media sosial. Buat anak bangga bahwa meskipun mereka tidak memilikinya, ada hal lain yang jauh mereka kuasai.

Ketiga, untuk mengurangi rasa keingintahuan anak, tidak ada salahnya untuk memberi gambaran kepada mereka dengan menampilkan media sosial dan mengupas bagian-bagian yang ada di dalamnya.  Misalnya, orangtua dapat menampilkan akun Facebook miliknya lalu memberi penjelasan apa saja yang bisa dilakukan di sana. Tambahkan pula hal-hal yang tidak boleh dilakukan di media sosial.

Keempat, berikan aktivitas fisik atau aktivitas lain yang merupakan kesukaan anak, misalnya dengan memberi banyak bacaan atau mengikutsertakan anak dalam klub futsal.

Kelima, dalam menerapkan aturan dengan anak, kerap kali perlu dilakukan tarik ulur. Tidak ada salahnya untuk “menukarnya” dengan keringanan aturan lain dan tidak membahayakan. Atau, memberikan kompensasi yang mereka suka, misalnya menambah jumlah buku bagi anak yang senang membaca.      

Namun yang perlu diingat, menerapkan aturan pada anak dapat dilakukan jika antara orangtua dan anak terjalin kedekatan dan komunikasi dua arah kerap dilakukan.

Salam hangat,
Aprilina Prastari
Pemerhati Komunikasi Keluarga