Showing posts with label Marketing Communication. Show all posts
Showing posts with label Marketing Communication. Show all posts
Di Platform Media Sosial Apa Konsumen Biasa Bahas Masalah Kulit Wajah?

Di Platform Media Sosial Apa Konsumen Biasa Bahas Masalah Kulit Wajah?

Untuk social media strategist, content planner, dan teman-teman yang menangani  promosi brand di media digital pasti paham pentingnya memahami percakapan di media sosial. Dari mulai menganalis sentimen, word cloud, share of voice, hingga waktu percakapan yang dilakukan pengguna media sosial tentang topik tertentu. 

Pada 9 Agustus lalu, pada acara Indonesia Brand Communication Excellence 2024, Kristiyanto, Chief Marketing Officer dari Ivosights memberikan analisis tentang percakapan di media sosial yang berkaitan dengan masalah dan perawatan kulit wajah.  

Platform media sosial X digunakan untuk diskusi yang berkaitan dengan masalah kulit seperti jerawat dan wajah kusam. Waktu puncak untuk percakapan ini terjadi antara pukul 18.00 hingga 23.00, terutama pada hari Rabu. Instagram lebih banyak digunakan untuk promosi produk perawatan kulit terutama yang melembabkan, dengan wakti percakapan terbanyak pada pukul 12.00-17.00 WIB. 


Sumber: Unsplash.com

Melihat hal tersebut, Kristiyanto menyarankan beberapa catatan untuk para brand owner. Pertama, optimalisasi waktu posting. Kedua, bedakan platform dan waktu posting untuk topik tentang masalah kulit wajah dan kebutuhan perawatan kulit. Ketiga, kampanye berdasarkan topik terpopuler. Sertakan konten edukatif dan soroti manfaat produk yang mencerahkan dan melembabkan kulit. Keempat, berkolaborasi dengan influencer. 

“Selain itu, affiliate marketing cukup efektif untuk brand,” kata Kris. 

Penjelasan Istilah:

  • Analisis Sentimen: Teknik pemrosesan bahasa alami (NLP) untuk mengidentifikasikan dan mengatagorikan opini (positif, netral atau negatif) dalam percakapan di media sosial. 
  • Share of Voice (SoV): Metrik yang mengukur proporsi percakapan tentang suatu brand atau topik tertentu dibandingkan dengan total percakapan di media sosial dalam kategori yang sama. SoV menunjukkan berapa besar kehadiran brand tersebut di media sosial, dibandingkan dengan kompetitornya. 
  • Word Cloud: representasi visual dari Kumpulan kata yang sering muncul dalam percakapan di media sosial. Kata-kata yang sering digunakan akan ditampilkan dengan ukuran yang lebih besar. Word Cloud dapat membantu mengidentifikasi topik, tren, dan sentimen yang dominan dalam percakapan pengguna. 

(Disarikan oleh Aprilina Prastari, saat menghadiri Indonesia Brand Communication Excellence 2024, 9 Agustus 2024 di kampus LSPR, Jakarta)






Glow Up Your Brand: Cara Brand Baru dan Lama Merebut Hati Konsumen

Glow Up Your Brand: Cara Brand Baru dan Lama Merebut Hati Konsumen


Pandemi covid-19 ternyata takhanya mengubah kebiasaan di sektor pendidikan dan pekerjaan tetapi juga dalam hal perawatan diri, diantaranya wajah dan tubuh. Diakui Deanira Kapita, Product Development Nose Herbalindo, sejak covid, permintaan menjadi brand owner produk-produk kecantik dan perawatan kulit semakin meningkat. BPOM mencatat 20.6% industri kosmetik di Indonesia semakin berkembang. 

Komunikasi Brand Perawatan Kulit 

Jika melihat perjalanan brand perawatan kulit di Indonesia, maka kita akan melihat pendekatan komunikasi yang berbeda-beda. Pada 1980-2000, beberapa brand perawatan kulit lebih banyak mengomunikasikan tentang rahasia kecantikan zaman dulu, dengan menonjolkan putri keraton yang cantik dan menggunakan ramuan alami. Narasi memiliki kulit putih itu cantik juga menjadi salah satu pesan yang sering ditonjolkan dalam iklan-iklan mereka. 
Pada 2000-2010, komunikasi bergeser pada kualitas lokal yang tidak kalah dengan produk luar negeri. Kepedulian konsumen pada produk halal pun mulai digunakan para brand untuk mengomunikasikan kehalalan brand mereka. 
Beralih ke tahun 2010-2020, memasuki era digital dan media sosial semakin meningkat, brand pun mulai menggunakan para social media influencer. 
Lalu, apa yang akan menjadi tren komunikasi pada era 2020 ke atas?
“Tahun 2020 ke atas, era diversity of sustainability. Konsumen sekarang sudah peduli pada brand yang memiliki konsep dan peduli pada lingkungan. Mereka tertarik pada brand yang tidak menggunakan uji coba pada hewan, clean beauty, punya kontribusi pada lingkungan,” ujar Deanira, pada acara Brand Communications Excellence 2024, yang diselenggarakan pada 9 Agustus 20204, di kampus LSPR, Jakarta. 
Untuk itu, Nose, sebagai perusahaan yang memproduksi produk-produk perawatan kulit fokus pada unsur natural di dalamnya. 

         Sumber foto: Unsplash.com

Dengan semakin banyaknya pemain baru di bidang perawatan kulit, brand lama pun harus berbenah. Salah satunya, Erha. Pada awal berdirinya, Erha dikenal sebagai klinik perawatan kulit. Produknya pun tidak dijual bebas seperti sekarang. Namun semakin berubahnya perilaku konsumen terhadap perawatan kulit dan kecantikan, ditambah semakin banyaknya brand baru saat ini, brand yang sudah hadir selama 24 tahun ini harus berubah. 
Dijelaskan Angelyn Bunardi, Director of Erha Skincare, konsumen saat ini lebih berpengatahuan karena informasi banyak bertebaran di internet. Apalagi dengan banyaknya konten-konten tentang perawatan kulit, baik yang disosialisasikan oleh dokter atau public figure. Begitu juga dengan kebutuhan konsumen yang semakin beragam; dari mulai menghilangkan jerawat, flek, melembabkan, hingga kulit putih. 
Dilihat dari jenis kelamin, jika dulu pengguna produk-produk perawatan kulit adalah perempuan, maka saat ini, 18% adalah laki-laki, dengan target utamanya adalah Gen Z. Peluang ini dimanfaatkan Erha untuk membuat produk khusus laki-laki dengan brand HisErha. 

Dari Klinik ke Produk Massal

Dengan semakin banyaknya brand-brand baru dengan marketing yang kian gencar, Erha pun berusaha untuk “membumi”. Erha mulai hadir di beberapa gerai perawatan kulit dengan beragam produk dan kemasan yang disesuaikan dengan target audiensnya. 
“Kami hadir di tempat-tempat yang dekat dengan keberadaan konsumen, seperti di event, sekolah dan komunitas,” kata Angelyn. (Aprilina Prastari)



Kunci Membuat Radio Spot yang Ear Catching

Kunci Membuat Radio Spot yang Ear Catching


Di tulisan sebelumnya, saya sudah mengulas tentang pesan dan ide di dalam iklan. Nah, ide tadi, bisa diturunkan ke beberapa materi iklan yang ingin dibuat. Radio spot, misalnya. Buat kreator iklan, membuat radio spot merupakan tantangan tersendiri karena hanya dengan durasi 60” harus bisa menyampaikan pesan dan yang penting, menarik untuk telinga alias ear catching.

Nah, bagaimana sih membuat radio spot yang menarik buat telinga?


Ini salah satu kegiatan waktu take VO. Kalau di studio, peralatannya lebih lengkap. Meski begitu, take VO juga bisa dilakukan di rumah, kok. Asal tidak ada "noise" yang masuk. 


Seperti yang kita ketahui, pendengar radio biasanya mendengarkan radio sambil mengerjakan hal lain; entah menyetir, masak, baca buku, dan sebagainya. Jaraaang banget yang mendengarkan radio secara khusus tanpa aktivitas apapun. Makanya, kalau radio spot yang kita buat bisa membuat mereka menghentikan pekerjaannya dan serius mendengarkan (terutama jika ini baru kali pertama radio spot tersebut diputar), selamat! Berarti kita berhasil membuat radio spot yang punya stopping power.

Lalu, apa yang harus dilakukan kreator iklan untuk menghasilkan radio spot yang nendang seperti itu?

Pertama, setelah kita mendapatkan ide yang kuat (kalau belum baca tulisan tentang pesan dan ide, silakan dibaca dulu ya), lalu turunkan ke cerita. Sebaiknya, hindari membuat cerita yang hanya “menumpahkan” product knowledge ke dalam script seperti ini, ya:
A: “Duh, wajahku berjerawat,”
B: “Oh, kalo berjerawat, pake ini deh. Brand XXX mengandung XXX yang bisa mengempeskan jerawat dengan cepat.”
A: “Wah, coba, ah.”
B: “Eit, beli dong,”

Please, jangan ya.

Ogilvy akan berteriak,” you must be joking!”

Jadi, harus bagaimana menulis ceritanya? Ingat, 10 detik pertama harus mengesankan. Ulik dari kebiasaan remaja perempuan yang panik kalau ada jerawat di wajahnya. Coba, bandingkan dengan awal script di bawah ini:

Dila: “Eerrhhh…”
Dila: “Iiiihh….”
Dila: “Dikiiiit lagiiii …”

Kira-kira Dila lagi apa?
Ya, kamu benar. Dila lagi berusaha mencet jerawat. Hal yang biasa dilakukan remaja yang panik lihat jerawat segede biji papaya di pipi.

Awal seperti itu yang paling tidak membuat pendengar mengeryitkan dahi, “hmm.. ini iklan apa ya?”

Selebihnya, kamu bisa berkreasi sesuai idenya.

Kedua, setelah mendapatkan script dengan cerita yang menarik tadi, cek durasi.
Ketiga, pilih voice talent yang sesuai karakter. Kira-kira voice talent seperti apa yang tepat untuk remaja seusia Dila? Usia? Mungkin sekitar 15 tahun. Setidaknya, karakter suaranya seusia itu. Suaranya, agak manja mungkin tapi jangan cempreng, dan ekspresif.

Keempat, selain memilih VO yang sesuai, dia juga harus mampu berakting (lewat suara) sesuai dengan script. Ini tugas copywriter untuk mengarahkannya (umumnya di agency, copywriter yang membantu mengarahkan VO).

Kelima, matangkan di editing. Tambahkan SFX, musik jika perlu.


Paling penting, terus semangat mengulik supaya menghasilkan karya yang nendang, ya. (APR)
Ide dalam Iklan. Apa dan Bagaimana Menguliknya?

Ide dalam Iklan. Apa dan Bagaimana Menguliknya?

Tidak sedikit iklan-iklan buatan Thailand membuat kita menangis atau tertawa terbahak-bahak. Hingga satu kata yang sering dikatakan orang sesudah melihatnya, “keren!”
            
Tidak dimungkiri, iklan-iklan mereka, yang banyak menang kompetisi itu, memang memiliki ide yang kuat. Ya, ide! Tiga huruf yang sering membuat pekerja kreatif harus rela lembur berhari-hari, menghabiskan bercangkir-cangkir kopi menemani sesi brainstorming. Selesai menguliti habis isi brief, pertanyaan berikutnya yang harus dicari adalah, “apa idenya?”
            
Awal tahun 2000, ketika saya masih menjadi copywriter dan para senior periklanan sering membuat kopdar untuk Creative Circle Indonesia, salah satu kopdar yang saya ikuti adalah diskusi “How to Make Great TVC” bareng Mas Rizky Nur Zamzamy yang kala itu menjadi Creative Director di Macs909.
            
“Setiap ide itu punya layer. Jangan berhenti di layer pertama. Tarik terus sampai terasa uniknya.” Kurang lebih itulah yang disampaikan Om Jimmy saat itu.

            
Jadi sebetulnya, apa sih ide itu?
            
Sebelum sampai di sana, kita perlu pahami dulu, apa sih iklan yang bagus itu. Apakah iklan yang bagus itu; yang susah, njelimet, yang bikin orang mikir dulu? Atau yang pakai animasi kelas dunia? Atau, pakai artis yang bayarannya mahal?
            
Iklan yang bagus, pada dasarnya adalah yang menjawab tujuan beriklan (advertising objective) dan mampu menyampaikan pesan dengan cara yang menarik.  Nah, cara yang menarik inilah yang harus dicari.


Aktivitas brainstorming, mata kuliah Produksi Iklan TV dan Radio, Universitas Bakrie


Pesan dan Ide

Dalam membuat iklan, kita akan dihadapkan pada dua hal penting yaitu “what to say” dan “how to say”. "What to say" adalah pesan apa yang mau kita sampaikan kepada target audience sedangkan “how to say” bagaimana kita menyampaikan pesan itu. Namanya juga cara, bisa bermacam-macam. Sama seperti kalau kita mau pergi dari Jakarta ke Yogyakarta. Ada yang naik pesawat, kereta, bus, mobil. Ada yang bablas lewat tol, ada yang mampir-mampir dulu ke kota-kota sebelumnya. Cara itulah yang secara sederhana dipahami sebagai ide.   

Bagaimana mencari ide? Setiap kreator iklan punya banyak cara untuk mengulik ide. Yang jelas, bukan dengan semedi berhari-hari di dalam gua atau berendam di kolam ikan lele. Ide didapat dengan rajin mengulik. Mengulik kelebihan brand-nya, kompetitornya, kebiasaan target audience-nya. Tanpa rajin mengulik, kecil kemungkinan kita akan mendapatkan ide yang ruarrr biasa!
           
Berdasarkan pengalaman mengajar iklan di beberapa kampus, banyak nih teman-teman mahasiswa yang masih kesulitan membedakan pesan dan ide. Biar nggak bingung, saya kasih contoh ya. Misalkan, kamu harus membuat TVC untuk produk penyemprot mulut yang bisa membuat mulut wangi seketika. Itu kelebihan sekaligus bisa menjadi pesan. Bagaimana mencari idenya? Kamu bisa menggalinya  dari kebiasaan audience. Pada kondisi apa biasanya seseorang memerlukan penyemprot ini? Hmm.. biasanya, orang suka nggak pede kalau habis makan makanan yang berbau kan, contohnya, pete, jengkol, durian. Ulik lagi, pada kondisi apa biasanya produk ini dibutuhkan? Tentu, pada saat ketemu seseorang, apalagi kalau seseorang itu, seseorang yang berarti, seperti pasangan, calon klien, dan lainnya. Bayangkan situasinya, misalkan ada seseorang yang baru melampiaskan nafsu makannya dengan memakan jengkol di RM Padang, lalu dia ketemu dengan calon kliennya yang terkenal perfectionist. Dari insight itu, kita bisa buat idenya, “unexpected meeting”.
Sudah terbayang dong ceritanya akan bagaimana? Dari ide itu, tentu banyak turunan cerita yang bisa kita buat.
            
Nah, kira-kira seperti itu. Jadi, jangan lelah untuk mengulik ya. (APR)
 
Edukasi Melalui Komunitas Online, Seberapa Efektif?

Edukasi Melalui Komunitas Online, Seberapa Efektif?

Ketika media sosial belum ramai seperti sekarang, pemilik brand biasanya melakukan edukasi tentang produknya melalui media konvensional, misalnya, talkshow di TV dan radio, atau menulis advertorial di media cetak. Namun dengan perkembangan media sosial yang begitu pesat dengan diikuti oleh beragamnya komunitas online, ada cara menarik yang dapat dilakukan dengan sasaran audiens yang lebih spesifik, tema yang lebih beragam dan biaya yang jauh lebih murah, yaitu dengan melakukan content marketing di beberapa komunitas online.

Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar dapat mencapai tujuan dengan tepat.

Ø  Tepat dalam memilih komunitas

Komunitas yang diajak bekerjasama tentunya komunitas yang profil anggotanya sesuai dengan sasaran produk kita. Jika kita memiliki produk yang ditujukan untuk para ibu sibuk, misalnya, ada baiknya menyasar komunitas-komunitas ibu bekerja atau pebisnis. Jumlah anggota dan keaktifannya pun perlu diperhatikan. Berapa banyak anggota yang aktif, apa saja minat mereka, apakah mereka senang mengomentari kiriman anggota lain, apakah senang membagikan informasi ke anggota lain, dan sebagainya. Hal ini tentu akan menentukan jumlah dari reach dan impression-nya.

Summer: IG Pendaki Cantik. Visual dan Copy: Mothers on Mission


Ø   Informatif

Posisikan anggota komunitas sebagai sahabat bukan sebagai objek sasaran yang harus dijejali dengan aneka promosi. Hubungannya harus menguntungkan kedua belah pihak. Pemilik brand perlu memfasilitasi dengan informasi yang bermanfaat bagi anggota.
Salah satunya, seperti yang dilakukan obat diare, Entrostop, belum lama ini. Meski sudah dikenal kuat sebagai obat diare namun dengan melihat kecenderungan masyarakat yang masih menganggap remeh penyakit diare, obat produksi Sakafarma ini pun melakukan edukasi tentang diare ke lima komunitas dengan minat parenting, kuliner dan olahraga. Edukasi dimulai dengan memberikan pemahaman tentang diare, pencegahan hingga penanggulangan. 

Sumber: IG Blogger Perempuan. Visual dan copy: Mothers on Mission



Ø  Konten melihat kebutuhan anggota

Komunitas online terbentuk biasanya berdasarkan minat masing-masing. Komunitas menulis, misalnya. Biasanya diisi oleh mereka yang memiliki kepedulian terhadap literasi. Penting bagi pemilik brand untuk menggali kebiasaan dan kesukaan mereka sehingga konten yang diberikan juga sesuai dengan gaya hidup mereka.

Summer: IG Kuliner Jabodetabek. Visual dan copy: Mothers on Mission


Dengan memahami persoalan yang dihadapi dan audience insight, brand owner dapat memilih komunitas dan aktivitas yang tepat untuk mencapai tujuan.


Aprilina Prastari
Mothers on Mission--Community Marketing Agency