5 Kiat Lepaskan Anak dari Belenggu Medsos

/ /
Tulisan ini juga dimuat di AhadTimes, 18 Oktober 2016
http://ahadtimes.com/5-kiat-lepaskan-anak-dari-belenggu-medsos/


Fenomena selebgram (Seleb Instagram) yang kerap menampilkan foto-foto  yang tidak sepatutnya dilihat oleh anak-anak, seperti berpose mesra dengan pacar, membuat daftar panjang tantangan orangtua di era digital ini. Belum lagi aplikasi berkonten pornografi yang mudah diunduh dan keseruan yang menggiurkan anak untuk dilihat dan dipuji orang lain.  

Dampak negatif dari media sosial ini tentu perlu mendapat perhatian sangat serius dari orangtua. Ironisnya, banyak anak-anak usia SD sudah memiliki dan aktif bermedia sosial. Sebaiknya, bagi anak-anak yang masih berusia di bawah 13 tahun, tidak perlu memiliki media sosial. Bahkan, pikirkan kembali, jika orangua ingin memfasilitasi anak dengan smartphone. Kalau kebutuhannya hanya untuk menelpon atau berkirim pesan, cukup gunakan HP sederhana. Mungkinkah orangtua membatasi anak memiliki akun media sosial terlalu dini?

Dari pengamatan dan beberapa studi, anak-anak ingin memiliki akun media sosial dikarenakan dorongan dari teman-teman dan rasa penasaran. Untuk itu, orangtua perlu membangun konsep diri anak. Dukung mereka untuk berani mengemukakan pendapatnya sendiri, mengatakan tidak untuk sesuatu yang ia tidak nyaman, percaya dan bangga pada dirinya.

Selain itu, ada beberapa hal yang dapat dikomunikasikan dengan mereka.

Pertama, buat kesepakatan pada usia berapa mereka boleh memiliki akun media sosial. Hal ini tentu akan mengundang reaksi yang beragam pada setiap anak. Boleh jadi mereka kesal karena merasa teman-temannya sudah memiliki akun media sosial sementara ia tidak. Ia mungkin akan membandingkan mengapa A boleh, sedangkan ia tidak. Pada kondisi seperti ini orangtua dapat menjelaskan bahwa di setiap keluarga memiliki aturan yang berbeda-beda. Jelaskan dampak negatif jika memiliki akun media sosial, tentu dengan bahasa dan kondisi konkret yang mudah dipahami anak. Ungkapkan kekhawatiran kita sebagai orangtua dengan intonasi dan mimik wajah yang dapat ditangkap anak sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang orangtua.

Kedua, jika anak merasa khawatir diejek teman-temannya atau disebut kudet (kurang update), orangtua dapat jelaskan bahwa lebih kudet mereka yang tidak mengetahui sejarah nabi, atau pengetahuan lain yang lebih bernilai dan anak menguasainya, dibandingkan yang tidak punya akun media sosial. Buat anak bangga bahwa meskipun mereka tidak memilikinya, ada hal lain yang jauh mereka kuasai.

Ketiga, untuk mengurangi rasa keingintahuan anak, tidak ada salahnya untuk memberi gambaran kepada mereka dengan menampilkan media sosial dan mengupas bagian-bagian yang ada di dalamnya.  Misalnya, orangtua dapat menampilkan akun Facebook miliknya lalu memberi penjelasan apa saja yang bisa dilakukan di sana. Tambahkan pula hal-hal yang tidak boleh dilakukan di media sosial.

Keempat, berikan aktivitas fisik atau aktivitas lain yang merupakan kesukaan anak, misalnya dengan memberi banyak bacaan atau mengikutsertakan anak dalam klub futsal.

Kelima, dalam menerapkan aturan dengan anak, kerap kali perlu dilakukan tarik ulur. Tidak ada salahnya untuk “menukarnya” dengan keringanan aturan lain dan tidak membahayakan. Atau, memberikan kompensasi yang mereka suka, misalnya menambah jumlah buku bagi anak yang senang membaca.      

Namun yang perlu diingat, menerapkan aturan pada anak dapat dilakukan jika antara orangtua dan anak terjalin kedekatan dan komunikasi dua arah kerap dilakukan.

Salam hangat,
Aprilina Prastari
Pemerhati Komunikasi Keluarga

No comments:

Post a Comment