Jurnalisme dan Info Hoax

/ /
Dalam ilmu jurnalistik, istilah hoax tidak ditemukan karena kaidah jurnalisme mengedepankan fakta peristiwa, kompetensi sumber berita dan verifikasi. Yang menarik, setahun belakangan ini istilah hoax makin mengemuka. Hoax hadir seiring munculnya website dan tumbuhnya media sosial.
Hoax di media pers bisa diistilahkan sebagai berita bohong. Pers yang memuat berita bohong sudah pasti akan ditinggal pembaca, pemirsa atau pendengarnya. Dalam konteks jurnalistik, berita bohong hampir sulit masuk ke media pers karena mekanisme kerja di redaksi begitu ketat, selektif dan melibatkan banyak jenjang.
Selain itu, ada profesi wartawan yang mengatur etika, lembaga yang membuat regulasi dan dipayungi undang-undang sehingga berita yang muncul di media pers tidak bisa asal.
Hoax tumbuh di media sosial termasuk website yang sangat mudah dibuat. Di media sosial, semua orang adalah penyampai pesan. Baik pesan benar atau salah, semua berhak menulis dan menyebarkannya. Tidak aturan mengikat mengikat, tidak ada jenjang, setiap orang mewakili dirinya sendiri.
Informasi hoax bahkan diibaratkan melebihi kecepatan orang bernafas  karena info itu begitu cepat menyebar hampir ke semua kalangan. Pengalaman teman yang punya banyak sekali grup WA, dia mendapat info hoax sampai 10 kali dari 10 grup yang isinya berbeda-beda dalam waktu hampir bersamaan.
Hoax menjadi makin menakutkan beberapa kalangan karena info hoax itu dipercaya hingga media pers yang mainstream juga mengutipnya sebagai sebuah berita. Entah sebagai fenomena, pembanding atau benar-benar menjadikannya sebuah berita. Sejatinya bagi media mainstream dan para jurnalisnya, informasi hoax bukan sebagai sumber berita tetapi sebagai bahan berita.
Mengapa hoax menjadi begitu terkenal, massif dan saat ini jadi menakutkan? Padahal hoax sudah ada sejak lama.

Mendadak Takut Hoax
Meledaknya hoax adalah sebuah keniscayaan di negara demokrasi seperti Indonesia, dengan beragam kalangan dan multi partai. Dimana ada kepentingan politik, ekonomi dan kekuasaan, disitulah hoax itu muncul.
Kemunculan hoax di tengah terbelahnya masyarakat kita yang pro Ahok dan anti Ahok, pro Jokowi dan anti Jokowi juga hal yang biasa. Apalagi ketika pilpres atau saat ini jelang Pilkada DKI Jakarta.
Hanya saja takut berlebihan terhadap hoax bukan berarti membuat semua hal yang ada di media sosial itu salah dan negatif. Kampanye anti hoax bagus saja untuk menyadarkan masyarakat namun jangan juga akhirnya kampanye itu hanya untuk menutup banyaknya isu yang beredar di media sosial tentang penguasa, tentang ekonomi, tentang utang, tenaga kerja. Apalagi yang ujungnya adalah penangkapan, penutupan situs secara serampangan.
Seperti kata Rocky Gerung kebenaran itu jangan dikendalikan karena mengendalikan kebenaran seperti ada yang ingin disembunyikan. Hoax adalah fenomena cepat melesat juga akan cepat terjerembab. Sikapi dengan biasa saja karena masyarakat pun akan menemukan keseimbangannya sendiri.
(Gaib M. Sigit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar